by

Penjualan Jagung Keerom Tembus Blitar

JAYAPURA [PAPOS] – Ditengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Keerom melalui Dinas Pertanian dan Perikanan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 7 miliar untuk pemberdayaan dan pemulihan ekonomi.

Dari total anggaran tersebut, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Keerom memfokuskan Rp 4,7 miliar untuk program tanam jagung seluas 1000 hektare (ha) yang melibatkan 36 kampung, 64 kelompok tani dan 1128 petani.
Hal tersebut telah membuahkan hasil, dimana Pemkab Keerom melakukan panen raya perdana jagung seluas 12

hektar di Arsopura, Distrik Skanto Kabupaten Keerom, Minggu (1/11/2020) dilakukan oleh Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Keerom Ridwan Rumasukun didampingi Ketua DPRD Kabupaten Keerom Bambang Mujiono dan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Keerom Sunar.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Keerom, Sunar mengaku hasil panen raya jagung tersebut merupakan anggaran relokasi recofusing kepada petani dengan pemberian bantuan bibit dan obat-obatan.

“Kami Dinas Pertanian dan Perikanan mendapat Pagu anggaran dari Pemkab Keerom sebesar Rp 7 milia,
Dana tersebut untuk pemulihan ekonomi yang kami fokuskan penanaman komoditas pertanian seperti jagung sebesar Rp 4,7 miliar untuk pengadaan jagung seluas 1000 hektar,” Jelasnya.

Dijelaskannya, tujuan anggaran recofusing ini untuk program penanaman jagung kepada petani. Dengan harapan, setelah panen ini pendapatan petani meningkat dan daya beli petani meningkat.

“Kita berharap petani kena dampak covid-19 tidak begitu terasa dan bisa tertutupi kebutuhan ekonominya,” Katanya lagi.

Ia menilai anggaran komoditas jagung dinilai sebagai salah satu komoditas pertanian yang umurnya pendek tidak mudah busuk dan disegala lapisan petani bisa menanamnya. para petani menggunakan benih jagung unggulan dalam kegiatan penanaman yakni Nakula Sadewa. Hasil produksinya mencapai sekitar lima ton per hektar.

“Kami memilih jagung karena masa tanam hanya 100 hari dan tidak mudah busuk. Kami telah berkoordinasi dengan salah satu koperasi petani di Blitar. Rencananya kami akan memasok jagung ke sana dengan kualitas kadar air mencapai 14 persen, ” papar Sunar.

Untuk lahan seluas 1000 hektar di kabupaten Keerom, namun yang baru siap panen saat ini seluas 12 hektar dari 100 hektar khusus Arsopura dengan perkiraan hasil produksi sekitar 60 ton jagung kering.

Sementara untuk penjualannya, ujarnya sebelum program penanam jagung tersebut dilakukan pihaknya terlebih dahulu telah mencari pangsa pasar.

“Kami akan kerjasama dengan salah satu Koperasi di Jawa Timur yakni Koperasi Putra Blitar, hal ini menjadi peluang bagi petani jagung di Keerom,” Jelasnya.

Sementara itu, Pjs Bupati Keerom Ridwan Rumasukun mengaku, hal tersebut sebagai upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus memberdayakan perekonomian petani ditengah masa pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Keerom melakukan panen raya jagung.

“Ini sesuatu yang positif dan patut kita beri apresiasi kepada Pemda dan kelompok tani masyarakat yang telah membuat kondisi Covid-19 ini lebih produktif,” Kata Ridwan Rumasukun disela-sela panen raya jagung.

Menurut Rumasukun bahwa walaupun ditengah pandemi Covid-19, petani di Kabupaten Keerom dapat membuktikan ketahanan pangan melalui pengembangan tanaman jagung dengan lahan 1000 ha.

“Artinya dimasa pandemi Covid-19 orang tidak bisa berproduksi tetapi petani di kabupaten Keerom berhasil melakukan sesuatu yang baik dengan menggunakan tanahnya tersedia yakni menanam jagung dan direncanakan

sebanyak 1000 hektar, namun yang sudah siap panen sebanyak 12 hektar,” Katanya.
Hal ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan dan pendapatan petani melalui peningkatan produksi dan produktivitas jagung, dimana hasilnya telah dipanen.

Ia mengaku hasil produksi tersebut nantinya akan dijual ke Blitas, Jawa Timur, dengan demikian hal ini sejalan dengan program pemerintah pusat dalam meningkatkan ketahanan pangan ditengah pandemi Covid-19.

“Ini sejalan dengan program pemerintah, ekonomi harus bangkit, kalau ekonomi masyarakat baik maka akan dapat menjaga dirinya dengan kemampuan ekonomi sehingga bisa lebih sehat. Tidak lagi tergantung kepada pemerintah,” Terangnya.

Lanjutnya, pola tanam jagung ini dilakukan secara berpriode sehingga tidak terputus dan telah ditunjang ketersedian alat mekanisasi pertanian, sehingga dapat terus diproduski untuk dipasarkan ke Blitar.

“Semoga ini menjadi kegiatan primadona di Kabupaten Keerom dan dapat berlangsung secara terus menerus dan akan diikuti seluruh masyarakat Keerom,” Ucapnya.

Sementara itu, salah petani jagung bernama Sugeng Mardi mengapresiasi program pemerintah Kabupaten Keerom tersebut.

“Kami menanam jagung hasil bantuan dari pemerintah, sebelumnya saya sebagai petani palawija,” Kata Sugeng.
Ia mengaku banyak keuntungan dari bantuan pemerintah tersebut seperti bibit dan obat-obatan yang diberikan dari pemerintah.

“Kamu mendapat bantuan dari pemerintah seperti bibit dan obat, jadi kami banyak keuntungan dan harga penjualan kami terima bersih,” tambahnya.[tho]

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *