RAJA AMPAT(PAPOS) – Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam membumikan semangatTri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) tahun 2025.
Kali ini, sebanyak 29 mahasiswa lintas fakultas akan diterjunkan ke wilayah timur Indonesia, tepatnya di Kota Waisai, KabupatenRaja Ampat, Papua Barat Daya, untuk menjalankan misi pengabdian bertema “Optimalisasi Ekowisata dan Potensi Maritim Berkelanjutan melalui Sinergi Tata Kelola Pemerintah dengan Pendekatan Bottom-Up”
Dipilihnya Waisai bukan tanpa alasan. Sebagai ibu kota Kabupaten Raja Ampat, wilayah inimenyimpan kekayaan ekosistem laut dan darat yang luar biasa, dari keindahan terumbu karang, eksotisme burung cenderawasih, hingga kearifan lokal masyarakat adat yang kuat.
Namun, berbagai tantangan seperti infrastruktur yang masih terbatas, belum optimalnya pengelolaan potensi wisata, hingga rendahnya akses masyarakat terhadap proses pembangunan, menjadi alasan utama pentingnya kehadiran kolaboratif dan pemberdayaan yang tepat sasaran.
Kegiatan KKN Sorai Waisai 2025 akan dilaksanakan di empat desa utama: Bonwakir, Sapordanco, Waisai Kota, dan Warmasen. Mahasiswa akan menjalankan program berbasislima fokus utama, mulai dari pengembangan wisata edukatif berbasis SAVE Tourism,penguatan kapasitas masyarakat dalam ekowisata berkelanjutan, pemetaan sumber daya alam,perencanaan partisipatif pembangunan desa, hingga pemanfaatan teknologi ramah lingkunganuntuk keberlanjutan wisata.
Dalam sambutannya, Dr. Djaka Marwasta selaku Dosen Pembimbing Lapangan menegaskan pentingnya pendekatan terpadu dan inklusif dalam mendorong pembangunan berkelanjutan diRaja Ampat.
Ia menekankan bahwa sinergi antar pihak menjadi kunci dalam menghadapi tantangan infrastruktur, pengelolaan sumber daya, dan aksesibilitas wilayah.
“Kami tidak datang membawa solusi instan, melainkan mendorong terbukanya ruang dialog dengan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah bersama. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ekonomilokal, serta mengembangkan infrastruktur dan sosial budaya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dr.Djaka.Lebih lanjut, Irnandini Putri, selaku Koordinator Mahasiswa KKN Sorai Waisai 2025, menyampaikan harapan agar program ini dapat menjadi ruang temu antara semangat muda,pengetahuan akademik, dan kearifan lokal.
“Kami membayangkan masa depan di mana warga Waisai dan generasi muda bisa bersama-sama mengembangkan pariwisata yang bukan hanya menarik secara visual, tetapijuga kuat dalam etika dan berakar pada lingkungan. Harapan kami, inisiatif kecil ini bisamenjadi bagian dari gerakan besar pembangunan berkelanjutan dari timur Indonesia untukdunia,” ujarnya.
Semangat kolaborasi juga tercermin dalam kerja intensif tim komunikasi dan hubungan eksternal yang telah dilakukan sejak jauh hari. Di bawah koordinasi Fakhri Muhammad selaku Koordinator Humas KKN Sorai Waisai 2025, upaya komunikasi dengan berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah, telah berlangsung dengan baik dan membangun optimisme terhadap kelancaran pelaksanaan program, mulai dari pemberangkatan hingga pemulangan mahasiswa.
Tim Humas KKN menaruh harapan agar seluruh niat baik dan rencana yang telah dirancang sejak awal dapat diterima secara terbuka oleh masyarakat danpemangku kepentingan di Raja Ampat.
Komunikasi yang telah terjalin dengan Pemerintah. Kabupaten Raja Ampat dan pemangku kepentingan lainnya dinilai cukup lancar dan konstruktif.
Diharapkan, keberadaan tim KKN nantinya dapat memperkuat hubungan yangtelah terbentuk sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat setempat.Pengabdian ini juga menjadi ruang praktik nyata bagi kolaborasi pentahelix antara akademisi, pemerintah, komunitas lokal, pelaku usaha, dan media.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswaakan banyak terlibat dalam pendampingan masyarakat dan pemerintah daerah, digitalisasipariwisata, sosialisasi gizi seimbang, hingga pelatihan digital marketing dan pengelolaanlimbah organik.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari dedikasi UGM di Tanah Papua sertabentuk konsistensi kampus dalam menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahansosial.(Redaksi)








