by

Tingkatkan Literasi Spasial, Guru SD Skouw Mabo Ikuti Pelatihan Media Puzzle Berbasis Deep Learning

JAYAPURA(PAPOS) — Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dasar, Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura terus melakukan berbagai inovasi.

Salah hal yang dilakukan Uncen Jayapura adalah melakukan pelatihan pembuatan media pembelajaran puzzle berbasis pendekatan deep learning bagi guru SD Negeri Inpres Skouw Mabo, Kota Jayapura, yang diselenggarakan oleh Tim Dosen Universitas Cenderawasih.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Tim pelaksana yang diketuai oleh Sukmawati, M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan rumpun ilmu Pendidikan MIPA bersama anggota Siti Hajar, M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Fisika, dan Chelsi Yuliana S., M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta 2 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih, Siti Mudrikah Walkaromah dan Evi Shafri Mustika Nebo.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai jawaban atas permasalahan rendahnya literasi spasial dan matematika siswa. Selama ini, guru lebih banyak mengandalkan metode konvensional seperti ceramah dan latihan soal, tanpa banyak menggunakan media konkret.

Padahal, anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap operasional konkret yang membutuhkan pengalaman belajar langsung melalui benda nyata.

“Puzzle dipilih karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa SD. Melalui puzzle, anak-anak dapat belajar mengenali bentuk, memahami bangun datar, dan mengasah keterampilan spasial dengan cara yang menyenangkan. Dengan pendekatan deep learning, puzzle tidak hanya menjadi permainan, tetapi juga sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan problem solving,” jelas Sukmawati.

Dalam pelatihan ini, para guru dilatih mulai dari tahap merancang desain puzzle, memilih dan memotong bahan, hingga mengintegrasikan media tersebut ke dalam rencana pembelajaran.

Tidak hanya itu, guru juga diberikan pendampingan bagaimana mengaitkan puzzle dengan capaian pembelajaran yang sesuai kurikulum.

Antusiasme peserta sangat terlihat. Guru-guru tampak aktif berdiskusi, berkreasi, dan menghasilkan berbagai model puzzle yang menarik. Beberapa guru bahkan sudah mencoba mensimulasikan penggunaannya dalam pembelajaran.

“Pelatihan ini membuka wawasan kami. Ternyata dengan bahan sederhana, kami bisa membuat media yang efektif dan membuat anak-anak lebih bersemangat belajar,” ungkap salah seorang guru peserta.

Selain meningkatkan kreativitas guru, kegiatan ini juga diharapkan memberi dampak nyata bagi siswa. Dengan puzzle, siswa dapat lebih mudah memahami konsep geometri, melatih kerjasama, serta meningkatkan rasa percaya diri. Aktivitas menyusun puzzle juga mendorong anak untuk berpikir logis dan sistematis.

Pelatihan ditutup dengan sesi refleksi, di mana para guru mempresentasikan hasil karya puzzle yang telah dibuat. Tim pengabdi memberikan masukan dan evaluasi agar media tersebut benar-benar siap digunakan di kelas. Ke depan, tim juga berkomitmen untuk terus mendampingi guru dalam mengembangkan media pembelajaran inovatif serupa.

Dengan adanya dukungan dari DPPM Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat kompetensi guru, tetapi juga menjadikan SD Negeri Inpres Skouw Mabo sebagai sekolah perintis dalam penerapan media pembelajaran berbasis deep learning di Papua.

Langkah ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberi kontribusi besar bagi peningkatan mutu pendidikan dasar di Indonesia.(Redaksi)